Kompetisi Atau Kolaborasi?

January 08, 2019
Beberapa saat yang lalu, salah satu grup di media sosial saya ramai sekali membahas sikap orangtua terhadap nilai raport anaknya. Mereka menyatakan bahwa sebaiknya tidak membandingkan hasil belajar anaknya dengan teman-temannya. Saya sepakat dengan mereka. Karena sejatinya, anak kecil belum mampu memahami konsep ranking.

Bagi mereka, nilai yang rendah, berarti kalah. Dan nilai yang tinggi, berarti menang. Karena konsep anak Sekolah Dasar menurut Piaget, masih konkret operasional. Walaupun sudah mampu menelaah sebab dan akibat, namun mereka masih belum mampu seratus persen memahami bahwa nilai di sekolah memiliki standart khusus. Sekolah akan me-rankingnya dari kemampuan mereka dalam bidang ilmu pengetahuan. Padahal, bisa jadi bakat mereka di bidang seni, seperti menggambar, menari, menyanyi atau yang lainnya, bukan ilmu pengetahuan.

Semua konsep kompetisi inilah yang akhirnya berkembang sampai dewasa. Rasa tidak suka ketika temannya berhasil, atau merasa dirinya harus di atas temannya. Namun, dilakukan dengan cara yang kurang tepat. Misalnya, tidak membagi informasi atau pengetahuan yang ada dengan baik. Atau ketika ada tugas, maka dia akan memberitahu setelah dia punya pemecahannya. Banyak hal lain yang awalnya terkesan biasa, namun akhirnya menjadi masalah.

Dua bulan yang lalu, saya pernah berdiskusi dengan seorang teman. Dia menyayangkan jikalau hal demikian berkembang hingga bangku kuliah. Karena hakikatnya, kuliah tidak perlu lagi berkompetisi. Kita dapat bertumbuh bersama. Bangku kuliah tidak ada lagi konsep rangking. Namun, kenyataan terkadang membuat pilu, karena jiwa kompetisi yang terjadi sangat tinggi. Bahkan sampai ke dunia kerja.

Bukankah ini wajar? Ya, karena kita dididik menjadikan teman kita sebagai saingan, bukan teman seperjuangan. JIwa kompetisi ini lah yang menjadikan kita menghalalkan yang namanya “menjilat”, “cari muka”, “pijak kepala kawan”, dan banyak hal lainnya. Padahal, dengan cara yang baik pun kita dapat berkompetisi. Selama kita memperdalam kompetensi kita dalam berkompetisi.

Saya sendiri merasakan bagaimana kolaborasi itu, ketika saya menapaki jenjang S2. Kerjasama antar teman begitu terasa. Tidak ada yang merasa lebih diantara yang lain. Masing-masing saling meguatkan. Bahkan ketika ada yang tertinggal, tidak segan-segan teman yang lain membantu dan meluangkan waktunya untuk mengajari yang tertinggal.

Hal ini juga saya rasakan di Blogger Sumatera Utara, bagaimana mereka membagi ilmu tanpa ada yang ditutup-tutupi. Kesempatan untuk maju juga dibagi. Kesempatan belajar juga tinggi. Bahkan setiap kita mendapat peluang yang sama untuk berkompetisi.

Selain itu, saya juga merasakan hal ini ketika bertemu dengan mas Syamsul Hatta, pakar NLP Indonesia, yang tanpa segan-segan membagi ilmunya kepada kami semua. Padahal, jika dikaji dengan baik, mungkin beliau bisa saja bersantai di hotelnya. Daripada mengajari kami dan berpanas-panas ria. Namun, beliau tidak pernah merasa rugi telah membagi ilmunya.

Saya yakin, selain mereka semua, banyak hal yang lebih positif yang  dirasakan oleh teman-teman. Jika diizinkan untuk berharap, maka saya berharap jiwa kolaborasi mampu dilestarikan di Indonesia. Seandainya hal ini terjadi, mungkin negara ini akan damai. Tidak ada lagi menjelekkan orang lain demi terlihat baik. Tidak ada lagi menyimpan ilmu demi terlihat lebih pintar. Semoga…..

30 comments:

  1. Setuju banget kak... Jiwa kolaborasi harus dilestarikan.

    Tapi aku sih suka berkompetisi. Jujur sangat disayangkan kalau di Sekolah SD sekarang tidak ada lagi rangking. Padahal itu bisa memacu semangat kalau mereka bisa rangking, saya harus bisa. Dan semua itu tergantung sudut pandang masing masing

    ReplyDelete
  2. Setuju banget kak... Jiwa kolaborasi harus dilestarikan.

    Tapi aku sih suka berkompetisi. Jujur sangat disayangkan kalau di Sekolah SD sekarang tidak ada lagi rangking. Padahal itu bisa memacu semangat kalau mereka bisa rangking, saya harus bisa. Dan semua itu tergantung sudut pandang masing masing

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya sepakat mengenai semangat, kompetisi sehat. Tapi konsepnya kadang ada yang salah, bang....membuat jadi rendah diri....

      Delete
  3. Bikos anak-anak kami school nya gak digedung sekolah, Udah gak pernah lagi ketemu case banding2in rapor anak.
    Hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. bagus sih.....jadi mengembangkan kemampuan masing-masing ya, kak....

      Delete
  4. Kereennnn ah nama blogger sumut di mention terus, yap utk itulah alasan blog sum dibuat.

    ReplyDelete
  5. Bagi awak memang haram share foto nilai anak.
    Tapi kalo ada yg share begituan, ditanggapi positif.
    Mungkin doi kesenangan anaknya juara kelas.

    Baiknya sih memang, gak usah share itu, karena kita pun yang pernah jadi anak, ada rasa bosan belajar.. 😂

    ReplyDelete
  6. Setiap anak itu unik.
    Bukan nilai raport yang menjamin kesuksesan anak.😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. kadang ngenes sih, kak....karena terlalu pinter, perusahaan malah takut rekrut

      Delete
  7. Kayaknya udah bisa d hapus sih sistem rangking. Emang benar kalo sistem ini macu kompetisi antar anak.
    Tapi pengembakan bakat dan moral di usia dini lebih penting mnurut saya.apalagi di usia dini.kemampuan stiap anak kan beda.

    Btw bisa jga ni Blooger sumut buat project kolab.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepakat sih, kak......

      kompetisi bisa selama anak paham tujuannya bukan menang kalah

      Delete
  8. Saya juga setuju, mengenai no ranking

    ReplyDelete
  9. Kompetisi dan Kolaborasi sebenarnya dua2 hal yang baik kak. Jika kita bisa bersikap yang benar. Menurut Gacil. Kompetisi itu menantang dan menimbulkan semangat untuk mencapai apapun itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener....saya juga setuju......asalkan tidak ada kata harus menang mgkn ya?

      Delete
  10. kompetisi dan kolaborasi itu diperlukan asal diberikan pada jenjang usia yang tepat. klw u/ anak-anak emang gak seharusnya mengenal kompetisi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener, kak.....usia dan pemahaman yang diberikan orangtuanya menentukan....

      Delete
  11. yg hrus ditanamkan adlh bgmn berkompetisi dengan sehat,,, krn bg sebgian org juga tdk ada kompetisi,, motivasiny kurang ,, dan satu lg, berkompetisi tujuanny buknlh mncari pemenang ,, bg sy kompetisi hnyalah sbg sebuah motivasi lain untuk meningkatkan kemampuan diri

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju.....setuju....setuju.....
      makasi, kak, buat pembelajaran saya berikutnya.....

      Delete
  12. Namun masih ada juga orang yang suka berkompetisi secara tdk sehat 😢

    ReplyDelete
  13. semoga saja ranking itu ditiadakan, cukup dilihat total nilai saja. Contoh kecil, total keseluruhan nilai setelah dibagi rata 85 yo wes itu saja.

    setidaknya gak perlu ranking-ranking begitu karena dibalik itu kadanag ada usaha curang juga demi rangkin yg belum diketahui.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yap....kebanyakan begitu...itu yang kurang sehat, zik.....

      Delete
  14. sayang nya di negara berkembang masih mengutamakan nilai dan ini juga yang membuat orang sungkan untuk kolaborasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. mudah-mudahan kita mampu belajar untuk tidak takut kompetisi sehat dan kolaborasi ya, bang

      Delete
  15. Kalau menurutku ranking tetap harus ada agar di akhir pengajaran per semester itu anak-anak tau mengukur kemampuannya dan juga sebagai reward atas mereka yang sudah belajar selama semester tersebut.

    Yang saya kurang setuju adalah, nilai dalam angka diberikan terhadap siswa saat kbm masih berlangsung, misal membubuhi poin angka disetiap latihan dan ujian mereka. Ya ini untuk mengurangi jiwa kompetisi mereka. Tetapi jiwa tersebut juga tidak boleh dihilangkan, tetap harus ada kalau menurut saya. Agar nantinya mereka dapat berusaha bertahan dikondisi yang sulit.

    Kebetulan saya pengajar. Jadi setelah saya menganalisis, mengapa orang luar negeri lebih bijaksana dalam mengoreksi dirinya sendiri adalah karena pada saat penilaian yang hasil belajar mereka tidak dapat poin angka tetapi mereka dapat poin kadar kemampuan mereka (kurang, cukup, sedang, baik, dan sangat baik). Nah inilah yang perlu dirubah oleh sistem pendidikan di negara/wilayah kita.

    nice share kak.

    ReplyDelete
  16. mompetition,kompetisi antara ibu membanggakan anak2. semenjak punya anak, memang banyak banget yang suka membanding2kan anak. untungnya aku sadar setiap anak itu berbeda, perkembangan anak juga berbeda. mereka akan tumbuh sesuai dengan tahapan dan juga kemampuan masing2. apalagi dalam hal belajar, kalau anak dipaksa menurutku bakal membal semua pelajaran yang masuk, mereka juga punya batasan. mesin aja kalau dipaksa terus beroprasi bakal error dan rusak. apalagi anak2.

    ReplyDelete
  17. Unique Selection We Men’s Loafer Slippers supply a comprehensive selection of more than 24,000 miniature and specialty chopping tools which are be} all totally stocked. The breadth and depth of our products help solve the industry’s hardest machining challenges. Designed for small-medium dimension milling machines and machining centers, for traditional machining jobs, with out requiring advanced programming data. Computers are used to regulate the machines, the process is automated therefore growing speed and high quality of manufacturing. Considering machines don't tire or need breaks it makes it extra environment friendly than handbook machining.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.