Keira...

September 12, 2019
Taman Rooftop ini diambil dari https://www.pegipegi.com/travel/10-resto-di-puncak-dan-bogor-dengan-pemandangan-indah/

Gadis berambut panjang itu menatap lurus ke depan. Hampir satu jam dia hanya duduk terdiam. Dalam keadaan normal, mungkin dia sudah mati gaya. Namun, suasana hati yang kurang baik menjadikan semua terasa biasa.

Atap kantor tersebut terdiri dari beberapa payung, dimana dalam satu payung terdapat empat kursi. Tempat ini sering menjadi pelarian ketika otaknya terasa penat. Nuansa hijau terlihat jelas. Hamparan rumput luas yang dihiasi dengan bunga-bunga sepanjang dinding pembatas turut memperindah atap. 

Tempat tersebut sangat sepi, karena jarang karyawan kantor yang rela berpanas ria ketika jam istirahat. Namun berbeda dengan Keira, dia duduk terdiam bertemankan peluh. Keringat membanjiri kemeja kantornya. Tidak sedikit pun niatnya untuk berpindah ke ruangan kantin yang full AC.

Sebuah tepukan di pundaknya membuyarkan lamunannya. "Kamu kenapa?" Suara yang rada melengking itu cukup khas di telinganya. Rindang, sahabatnya, sedari ia memasuki kantor, menghampirinya.

Keira hanya tersenyum, "Gak kenapa-napa. Kamu sudah makan?"

Diambil dari https://www.rimma.co/48434/relationship/5-sifat-kepribadian-ini-hanya-dimiliki-oleh-si-penyendiri/
Nada suara Keira yang lemah membuat Rindang paham, ada masalah yang tak mau diceritakan Keira. Dia hanya mengangguk. Tatapan Keira tidak dapat berbohong, sekali pun wajah putih tersebut menyunggingkan senyuman. 

Keira kembali terdiam, menatap lurus ke depan. Rindang membiarkan Keira yang masih terdiam. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya. Hingga waktu istirahat selesai, mereka bersama kembali ke ruangan masing-masing.

Sudah sebulan ini Keira melakukan aktifitas yang sama. Teman-temannya tidak terlalu paham apa yang terjadi, bahkan tidak jarang ada diantara mereka yang tidak menyadari semuanya. Rindang mulai bertanya dalam hati, apa yang tengah bergelayut di hati sahabatnya.

"Kei....stop, Kei....please, ngomong sama aku." Rindang mulai putus asa melihat semuanya. 

Keira hanya tersenyum. "Aku gak ada apa-apa."

Dia kembali duduk terdiam dan menatap hamparan hijau yang ada di hadapannya.

"Kamu berubah banget selama sebulan ini." Keira kembali tersenyum. Dia mengelus lembut tangan sahabatnya. Rindang menyerah, segala usaha sudah dicobanya. Dia menarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan. Beberapa hari setelah itu, batang hidung Keira tidak tampak lagi di kantor.

Sudah sebulan ini Keira tidak masuk kantor tanpa kabar. Hari pertama Keira tidak masuk kantor, beberapa temannya ada yang bertanya. Kepribadiannya yang pendiam, membuat mereka antara sadar atau tidak akan kehadirannya. Namun, tidak adanya surat izin atau kabar dari pihak keluarga, menggerakkan hati Rindang menuju ke rumah Keira. Dia berniat akan ke sana di hari libur.

Sesampainya di depan rumah Keira, rasa bingung kembali berkecamuk di hatinya. Taman yang biasanya rapi, kini penuh daun kering. Teras rumah kosong, tidak ada lagi dua buah kursi dan satu meja bulat, tempat mereka biasa mengobrol. Dilangkahkannya kaki memasuki halaman rumah bercat putih tersebut. Lantai putih itu penuh debu yang sangat tebal.

Kemana mereka? batinnya.

Tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah tersebut. Tangannya mengetuk pintu kaca yang terkunci rapat. Tidak ada sahutan. Diketuknya berkali-kali, namun hasilnya nihil. Hening. Yang terdengar hanya suara dirinya sendiri yang mengucapkan salam.

"Nak, maafkan, yang punya rumah sudah pindah. Kamu ke rumah ibu dulu ya, biar ibu kasih alamatnya." Seorang wanita tua berdaster batik menghampirinya. Dia pun mengangguk dan mengikuti wanita tersebut. Secarik kertas kecil bertuliskan alamat berpindah ke tangannya.

Setelah ucapan terimakasih, dia kembali melanjutkan perjalanannya ke alamat yang tertera di kertas tersebut. Perjalanan yang dilaluinya cukup jauh, hampir ke pinggiran kota. Namun semuanya tidak sia-sia. Sebuah rumah besar dengan halaman yang luas terbentang berada di hadapannya. Jaraknya yang tidak lagi berada di kota, menjadikan Rindnag paham alasan kepindahan Keira. 

Suasananya begitu tenang, rumahnya juga asri. Jauh berbeda dengan rumah lama yang berada di kota,  batinnya berasumsi. 

Seorang wanita yang mulai menua tengah berada di taman depan rumah tersebut. Wanita yang hampir seluruh rambutnya berwarna putih itu tengah memotong daun yang mulai menguning. Tangannya lincah menggunakan gunting kecil.

"Assalamualaikum, Bu." sapa Rindang dengan suara lembut, khawatir dia terkejut. Wanita itu berbalik dan memeluknya penuh kehangatan. Diajaknya Rindang masuk dan dengan sigap diberikannya teh manis dingin, minuman kesukaannya.

"Kamu tau alamat ibu darimana?" Wanita itu duduk di hadapannya. Gunting yang digunakannya untuk memotong tanaman sudah disimpannya dengan rapi.

"Tadi ke rumah lama, bu, tapi kosong. Ada ibu-ibu tua yang memberikan alamat ibu. Yah, Rindang langsung kemari. Mumpung gak kerja. Kalau kerja kan repot, bu." 

"Oh iya, dari bu Mur ya? Bu Murni maksudnya. Dia itu baik banget, makanya ibu kasih alamat ibu. Mungkin kalau ketemu yang lain, yah kamu gak tau juga ibu tinggal dimana." Tangannya yang sudah penuh dengan keriput itu membukakan toples kue dan meletakkan ke hadapan Rindang. "Bagaimana kabar kamu? Masih kerja? Katanya mau menikah, jadinya kapan? Kamu sama yang kemarin? Apa udah ganti?" 

Pertanyaan yang bertubi-tubi itu menjadikan Rindang penuh tanya, di mana Keira. Kenapa ibunya seolah tidak berniat memanggilkan Keira buat dirinya? Seolah Keira tidak berada di rumah itu. Lalu dimana Keira? Segala tanya itu mengisi kepalanya.

"Bu, maafkan, Keira dimana ya?" Rindang tidak mampu menahan rasa penasarannya.

Mendadak wanita yang mulai menua itu berdiri dan masuk ke dalam. Dia itu keluar dengan mengenakan jilbab panjangnya, "Keira di rumahnya, kita kesana yuk."

Mereka pun keluar dari rumah besar tersebut dan menguncinya. Dengan naik angkutan umum, mereka menuju ke rumah Keira.

Apakah Keira sudah menikah? Apa kemarin dia galau karena dipaksa menikah? Tapi kenapa dia diam saja pas bertemu di atap? Kenapa dia tidak cerita apapun? Pertanyaan demi pertanyaan kembali menyeruak.

Angkutan umum itu berhenti di depan lahan perkuburan. Dada Rindang mulai sesak. Airmatanya mulai jatuh. Dia berusaha menahannya, tidak mungkin Keira meninggal. Terakhir kali bertemu Keira masih baik-baik saja.

Dilewatinya jalan setapak menuju 'rumah Keira'. Dilawannya hatinya.

Tidak mungkin... tidak mungkin... tidak mungkin....pasti dia dan suaminya tinggal di dekat sini, batinnya berontak.

Hingga akhirnya mereka memasuki wilayah pemakaman buat wanita dan ibunya terduduk di hadapan sebuah makam. 

Keira Nadira Abdullah, sebuah nama tertulis disana. Lengkap dengan tanggal lahir dan tanggal kematiannya. Rindang teriak sekuat tenaga memanggil nama sahabatnya, sementara airmatanya mengalir deras tanpa dapat dibendung. Sahabatnya telah tiada. Tidak ada satu pun yang mengabarinya, bahkan orangtua Keira.

Setelah puas menangis, dipanjatkannya doa buat sahabatnya. Airmata tetap mengalir di pipinya. Tak sanggup dia membendung air yang mengalir deras dari matanya. Ibu Keira turut menangis di sebelahnya. Kehilangan putri satu-satunya pasti berat buatnya. 

"Kei...." Diusapnya keramik hitam yang bertuliskan nama Keira yang ada di hadapannya.

Diambil dari https://www.liputan6.com/lifestyle/read/3872393/18-kata-kata-patah-hati-karena-cinta-bertepuk-sebelah-tangan-bikin-galau

"Kamu sabar ya, nak. Keira sudah tenang." Ibunya Keira menepuk perlahan pundak Rindang. "Di akhir hayatnya, Keira stress berat. Padahal selama ini dia selalu ceria, tidak pernah terlihat ada masalah. Hingga kemarin, dia mendadak sakit, muntah-muntah setiap hari. Kata dokter, maag Keira kumat. Kami berusaha merawatnya, namun ternyata Allah jauh lebih menyayanginya."

Rindang menempelkan pipi di atas nisan sahabatnya. Berusaha merasakan kehadiran Keira. Kini yang terasa dingin. Tidak ada lagi pipi merah yang akan selalu menjadi temannya berbagi.

"Di kantor dia selalu diam, Bu." Rindang sendiri kaget mendengar ibunya berkata sahabatnya anak yang ceria.

"Dia ceria jika bersama ibu. Tidak pernah ada keluhan, yang ada selalu cerita lucu tentang kantornya. Ibu baru tahu setelah seorang teman kalian menjelaskannya." Rindang kaget mendengar ada temannya yang paham kondisi Keira. Kenapa dia tidak tahu sakitnya Keira?

"Dia tertekan selama ini. Pola asuh ayahnya yang militer dan menurun ke abang-abangnya, ditambah masalah pribadi yang disimpan rapat, membuat kondisi psikisnya mulai melemah. Dia mulai diam sebulan sebelum sakit maag parah yang dialaminya. Abang-abangnya sudah mencoba berbagai macam pengobatan, namun nihil. Hingga teman kalian, Aryo, meminta dia dibawa ke psikolog. Keira menyembunyikan Aryo dengan sangat rapi, karena khawatir dengan abang-abangnya. Kei....kamu pasti menderita, nak." Ibunya mengelus rumpur halus yang bertabur bunga yang ada di hadapannya. Pelan-pelan diusapnya, tanpa terasa airmatanya pun kembali mengalir. Rindang terdiam.

Aryo bukanlah nama asing baginya. Kedudukan Aryo tidak sebaik Keira, namun persahabatan mereka tetap baik. Namun, dia tidak menyangka Keira dan Aryo pacaran. Bukankah Aryo akan menikah? Apakah itu dengan Keira?

"Aryo meminta Keira untuk mengenalkan dirinya ke kami semua, karena dia ingin menjalin hubungan yang lebih serius. Namun, ternyata semua diluar harapan. Tantangan yang besar datang dari keluarga, bahkan keluarga besar. Keira hanya diam, ibu gak tau bagaimana tanggapan Aryo dan perasaan Keira  pada saat itu. Sejak saat itu Keira semakin terpojok dan semakin tertekan. Hingga akhirya dia sakit dan meninggal." Suara sesunggukan terdengar jelas oleh Rindang. Dielusnya pelan punggung wanita itu.

"Keira punya masalah, tapi gak pernah cerita, bu." Rindang menatap pilu nama sahabatnya.

"Dia memang gak pernah cerita. Satu-satunya temannya berbagi hanya Aryo. Semua luka dari masa kecil tersimpan rapi, hingga psikisnya goyah dan badannya melemah. Ibu paham dia tidak sekuat abang-abangnya, karena ayahnya meninggal pada saat dia berusia lima tahun. Jarak dia dengan abangnya juga cukup jauh, sehingga ibu mendidiknya berbeda. Apalagi dia satu-satunya teman ibu jika di rumah." Diusapnya makam putri satu-satunya. Ditariknya nafas panjang dan dilepaskannya perlahan.

"Sudah ketemu kan? Dia sudah bahagia, nak." Tatapan mereka nanar memandang makam yang ada di hadapan mereka.

Kei....aku selalu berpikir kamu beruntung. Ternyata luka kamu begitu dalam. Kamu simpan dengan rapi dan baik. Kei, kegagalan pernikahanku tidak sebanding dengan semuanya. Maafkan aku jika aku tidak paham cerita kamu. Rindang memanjatkan doa untuk terakhir kalinya, sebelum beranjak pergi.

Hati-hati mereka melangkah di pemakaman. Dilewatinya secara pelan. Rindang mengantar ibu sahabatnya kembali ke rumah, kemudian dia segera kembali ke rumahnya. Dia khawatir jika dia kembali ke rumahnya sudah gelap.

Sepanjang jalan dia terdiam. Dipandanginya aspal jalan yang dilaluinya. Seberat apakah beban sahabatnya? Mengapa dia tidak cerita? 

Oh, Kei, seandainya kisahku menjadi beban buatmu, mungkin aku akan sedikit menahan diriku untuk tidak cerita. Apakah kamu tidak tahu kalau kamu begitu berarti. Apa alasan dari diam kamu kemarin? Kenapa harus menyepi? Seberat apa bebanmu? Ah, seandainya kamu tidak ingin berbagi denganku, masih ada tenaga ahli, Kei. Sebegitu tabukah mendatangi psikolog, Kei, hanya untuk melepaskan bebanmu? Sekedar menyehatkan mentalmu? Mungkin ada alasan kenapa kamu enggan berbagi dengan mereka yang akan menghakimi kamu, tapi tidak bisakah kamu tunjukkan sedikit saja apa yang kamu rasa? Sebegitu tabukah mereka menerima kemarahan, kesedihan, kekecewaan dan segala hal negatif yang kamu rasakan? Sebegitu tabukah keluarga kamu menerima kamu dengan segala hal negatif yang kamu rasakan? Kei, kini tanyaku tak lagi berguna. Kamu menyimpan kisahmu dengan rapi. Kamu tidak mengizinkan kami, bahkan ibu kamu, mengetahui hatimu. Kei ..... Kei .....

Segala tanya itu tak lagi terjawab, karena sang empunya cerita membawanya pergi bersamanya. Senyumannya buat Rindang dan ibunya ternyata kepalsuan yang terbungkus rapi. 

Allah memberikan masalah sesuai dengan kapasitas umatnya, demikian juga sikap dalam menghadapi masalah. Akan selalu ada yang menjadi Keira, diam dalam masalahnya. Namun, tidak jarang juga menjadi Rindang, akan membagi kisahnya kepada semua orang dengan tenang. Tidak ada yang salah dalam keduanya, selama keduanya memahami batasnya. Masih banyak Keira-Keira lain di sekeliling kita. Perhatikan dan minta bantuan psikolog jika membutuhkannya. Tidak harus "gila" untuk ke psikolog. Karena ketika sudah sampai batasnya, semua sudah terlambat.

No comments:

Powered by Blogger.