Melepaskan atau Mempertahankan: Itu Adalah Keputusanmu...

July 19, 2019
Melepaskan atau mempertahankan? 

Hidup selalu menyediakan dua sisi kehidupan, bahagia dan sedih, suka dan duka, dan seperti dua sisi mata uang yang selalu bertolak belakang. Namun, pada kenyataannya tidak semua kejadian mampu kita terima dengan hati yang lapang. Terutama masa dimana kita merasa tersakiti, terluka, terbuang dan direndahkan.

Hingga akhirnya ketika ada yang menasehati, "Sudahlah, maafkan saja.", "Ya udah, lupakan aja." dan banyak nasehat lainnya. Nasehat ini malah menjadikan kita jengah, seolah-olah mereka tidak paham dengan apa yang kita rasakan. Nasehat tersebut akan kita anggap sebagai angin lalu, atau memasukkan "luka" tersebut ke alam bawah sadar kita. Dan akhirnya "tersimpan" dengan rapi.

Namun pada dasarnya semua rasa yang ada itu tidak pernah menghilang, hanya ter"simpan". Pernah gak sih kita melihat seseorang yang marahnya luar biasa, padahal pemicu masalahnya hanya kecil? Terlihat tidak berimbang tentunya. Hal ini dikarenakan hatinya telah sangat penuh "tersimpan" hal-hal yang menyakitkan dirinya. Inilah moment pentingnya tenaga profesional, seperti terapis profesional.


Ketika Aini Tarigan memberitahukan kepada saya tentang Kelas Memaafkan, terus terang saya sangat tertarik mengikutinya. Pemateri dari kelas tersebut adalah Bapak Qodrisyah yang merupakan seorang Professional Hypnotherapist and Lisenced Master NLP Practitioner. Beliau adalah seorang trainer yang sudah sepuluh tahun berpengalaman di bidangnya.

Namun, rasa khawatir kembali menyelusup ke dalam hati, karena bertepatan dengan acara buka bersama. Acara yang diadakan pada tanggal 16 Mei 2019, pukul 14.00 WIB ini benar-benar menarik perhatian saya. Karena terkadang kita tidak menyadari jika hal tersebut telah mengotori hati kita.

Berapa banyak peristiwa kita "anggap" peristiwa biasa, namun ternyata mengambil tempat di dalam hati kita. Dan juga beberapa kisah yang melukai kita, namun akhirnya hanya "disimpan" dengan rapi di alam bawah sadar. Kita paksa kejadian itu untuk tidak muncul ke alam sadar, dengan kalimat "saya baik-baik saja". Ketika kita diminta jujur kepada diri kita, semuanya tidak baik-baik saja. Kita terluka.

Pernah gak kita melihat seorang anak yang menyalahkan orangtuanya atas kegagalannya? Atau seorang istri yang menyalahkan suami atas apa yang terjadi? Atau seseorang yang menyatakan bahwa Tuhan tidak adil?

Ini merupakan hal yang lumrah yang terjadi, karena kita akan mencari objek buat disalahkan. Baik itu suami/istri, orangtua, Tuhan, bahkan diri sendiri pun kita salahkan atas segala hal yang terjadi. Karena kebahagiaan tersendiri ketika kita memposisikan diri kita menjadi "korban". 

Apa itu? Akan dikasihani oleh orang sekeliling, mendapat perhatian dan masih ada hal lainnya. Kita berada di posisi yang dianggap "menang". Namun apakah kenyataannya demikian? Jawabannya tentu saja tidak. Karena itu sama saja dengan kita yang meminum racunnya, namuh berharap orang lain yang mati.

Pesan coach Qodrisyah ini benar-benar menohok saya, karena jika kita pahami dengan baik, sebenarnya kita berada pada posisi merugi. Kenapa? Demi membalaskan dendam kita, maka kita "sibuk" dengan kehidupan orang lain. Padahal ketika kita fokus kepada diri kita, semua rasa itu akan menghilang secara perlahan.

Namun, bagaimana jika sesuatu itu ternyata berkaitan dengan hukum? Seperti kisah seorang kakak di kelas tersebut, dimana orangtuanya dibunuh. Apakah kita maafkan? Tentu saja kita harus memaafkannya, namun proses hukum tentu saja tetap harus dijalani. Karena memafkan dan melupakan adalah dua hal yang berbeda. 

Mungkin jika kita mengingat kasus Ade, seorang mahasiswa yang dibunuh oleh mantan pacarnya dan sahabatnya. Bagaimana sikap orangtuanya? Jujur saya salut dengan keluasan hati mereka. Bagaimana ibunya memeluk pembunuh anaknya dan menyampaikan kepada mereka bahwa beliau sudah memaafkannya. Mungkin jika kita berada di posisinya, kita akan teriak, memaki, mencaci dan melakukan banyak hal yang tidak pantas lainnya. Namun, kenyataannya beliau tidak melakukannya. Beliau memilih kedamaiannya tidak terusik oleh orang lain. Karena memaafkan bukan karena mereka berhak memaafkan, namun karena kita pantas untuk hidup damai.

"Tapi, kelakuannya begitu." Pernahkah kita mendengar seseorang menyatakan itu? Yap, pastinya pernah. Seolah-olah maaf yang mereka berikan diperuntukkan orang yang menyakiti. Padahal kenyataannya semua maaf yang kita berikan adalah hadiah buat diri kita sendiri.

Lalu, bagaimana jika dia sudah terlalu menyakitkan? Bukankah kita diberikan akal dan mulut oleh Tuhan, agar kita mampu menyampaikannya dengan cara yang baik. Akal adalah pembeda kita dengan binatang, agar kita mampu melihat mana yang terbaik dilakukan. Bahkan dalam kondisi terluka sekalipun.

Jika Tuhan saja mampu menerima taubat umatNya yang sudah penuh lumur dosa, namun apa alasan kita untuk tidak memaafkannya? Memaafkan dan melupakan adalah hal yang berbeda. Menjadikan apa yang melukai menjadi pembelajaran buat kita melangkah ke depan itu penting. 

Seseorang pernah menasehati saya, "Jadilah seseorang yang berbeda. Ketika kamu membalas perlakuannya dengan hal yang sama, lalu beda kamu dengan dia apa?" Terkadang kita menghujat seseorang dengan mudahnya, tanpa kita sadari kalau kita juga telah melakukan hal yang sama.

Banyak hal yang dapat saya petik ketika mengikuti kelas ini. Terkadang kita menganggap bahwa masalah kita sudah sangat berat, padahal kenyataannya masalah mereka sebenarnya jauh lebih berat lagi. Dan seberat apapun masalahnya, tetaplah maafkan. 

Sakit, luka, terbuang dan direndahkan seperti apapun kita, tetaplah maafkan mereka dengan tulus, karena kita berhak untuk hidup damai. Ketika saya diminta untuk fokus kepada diri saya, bukan menunjuk mereka yang melukai, maka damai yang dirasa. Menyalahkan siapapun hanya akan melemahkan kita. Kalau kata coach Qodrisyah, jadikah pelaku, bukan korban.

Kenapa kita harus jadi pelaku? Ini adalah salah satu bukti kita mecintai diri kita sendiri. Mengisi hati dengan hal yang positif, melapangkan hati kita, sehingga mampu melihat semuanya secara luas. Damai menjadi raja.

Dendam? Ucapkan selamat tinggal padanya, karena dia akan menjadi bagian dari masa lalu. 
Membalas dia? Tidak lagi, karena kita berfokus bagaimana mengembangkan diri.
Lalu? Maju dan tatap masa depanmu. Jadikan luka itu sebagai masa lalu.




1 comment:

  1. Bagus sekali tulisannya, Kak. Sayang aku gak dapat informasi ttg kelas ini, kalau gak, pasti aku bakalan ikut. Materinya bernas. Makasih atas tulisannya, Kak. Memang sulit sekali untuk memaafkan orang lain yang telah menyakiti kita, padahal memaafkannya adalah cara berdamai dengan diri sendiri, ya.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.