Reframing......

January 11, 2019

Beberapa hari lalu, saya membaca tulisan teman saya tentang sakit hati. Sakit hati disini bukan karena patah hati ya, tapi sakit hati karena diremehkan, direndahkan, dianggap tidak mampu dan banyak hal lainnya. Saya sepakat kalau setiap kita diremehkan, direndahkan atau apapun namanya, pasti akan menyebabkan perasaan yang tidak nyaman, terluka dan perasaan negatif lainnya.

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang sahabat yang baru saja pulang “belajar” dari Jakarta. Saya menyebutnya belajar, karena dia me-recharge kembali ilmunya. Hal yang paling disukai ketika bertemu dengan sahabat yang satu ini yaitu dia tidak pernah segan membagi ilmu yang didapatkannya, baik itu ilmu kehidupan yang didapat dari proses belajarnya atau ilmu yang diajarkan di kelas. Segala macam hal kami obrolin. Mulai dari strong why, goal, dan banyak ilmu yang disampaikannya kepada saya. Menarik sekali. Sampailah kepada topik pembicaraan mengenai reframing. Yaitu melihat sesuatu dari sudut pandang yang lain tanpa mengubah kejadian. Hal ini berguna agar pandangan kita tetap positif dan belajar untuk tidak menghakimi seseorang.

Pandangan positif? Yap, ini mudah diucapkan, namun tantangannya cukup tinggi untuk dilakukan.
Lalu, reframing itu bagaimana?
Misalnya, ketika ada orang yang menganggap kegiatan kita hanya tidur seharian, karena sedang berada di dalam kamar. Padahal, kalau orang tersebut mau membuka sedikit pintu kamar, mungkin akan melihat kita sedang berada di depan laptop atau melakukan hal-hal lainnya.

Marah? Kecewa? Sedih? Sebelum terhanyut dengan perasaan itu, ada baiknya kita mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri, “Untuk apa? Karena dianggap malas? Lalu, gunanya apa?” Itu pertanyaan yang kemarin diajukan sahabat saya pada saat kami diskusi. Diskusi ketika ada pendapat orang yang tidak menyenangkan di hati, sikap kita apa? Negatif? Atau positif?

Positif? Bagaimana bisa? Kan sakit? Reframing? Gimana caranya?
Contohnya, wajar saja dia menganggap kita seharian tidur, karena kamarnya berfungsi sebagai tempat tidur saja. Mungkin akan sulit masuk ke akalnya kalau kamar bisa jadi ruang kerja, misalnya menempelkan price tag, membuat prakarya, membuat tulisan, mengerjakan thesis, bahkan saya bisa membuat kotak kado di kamar.

Reaksi kita akan menentukan bagaimana perilaku selanjutnya. Jika, perasaan negatif justru akan melemahkan, lalu akan menjadi apa? Karena semuanya hanya akan membuat kita semakin terpuruk dan merasa tidak mampu. Akan berbeda jika perasaan tersebut dijadikan sesuatu hal yang positif, misalnya tulisan, sehingga tulisan kita akan ada nyawanya. Ini akan menjadi hal yang baik, karena kita mengubah perasaan negatif menjadi hal yang positif, perasaan yang akan membuat kita semakin berdaya.

Dalam buku Productivity Hack-nya mas Dharmawan Aji dinyatakan bahwa kita tidak akan bisa mengontrol hal di luar diri kita. Yang bisa kita kontrol adalah sikap kita terhadap kejadian itu. Kalau dalam pelajarannya mas Syamsul Hatta yang saya ikuti, pikiran kita yang akan menentukan perasaan kita dan perasaan ini lah yang akan membentuk perilaku. Jadi, kalau kita berpikir tentang hal negatif, maka yang kita rasakan juga negatif, sehingga perilaku kita juga menjadi kurang tepat.

Mungkin ini hanya contoh kecil dari sekian banyak hal yang terjadi di lingkungan. Tapi, yakinlah untuk tetap melatih diri untuk tetap berpikir positif, agar hasilnya juga baik. Reframing yang dijelaskan disini sengaja dibuat hal yang sederhana, karena saya hanya ingin menunjukkan pola dari reframing itu.



2 comments:

  1. begitulah manusia, sukanya judging padahal tak tahu apa-apa. menyebalkan. *numpang curhat haha. salam kenal ya

    ReplyDelete
  2. hahaha.....kita emang sulit mengontrol mereka....

    ReplyDelete

Powered by Blogger.