Film "Keluarga Cemara", Bagus Gak?

January 04, 2019

Kalau mendengar judul “Keluarga Cemara”, maka yang terlintas di dalam pikiran saya adalah sinetron pada tahun 90-an yang diperankan oleh Adi Kurdi dan Novia Kolopaking. Kisahnya yaitu tentang keluarga sederhana, yang terdiri dari Abah, Emak, Agil, Ara dan teh Euis, yang tinggal di desa. Suasana keluarga yang penuh kehangatan, dengan ayah dan ibu yang sangat bijaksana. Jika ditanya tentang gambaran keluarga tersebut, maka saya akan katakan kalau mereka adalah keluarga yang sempurna. Penuh kehangatan, penuh kasih sayang, penuh canda tawa, pokoknya sempurna.
                                                                                 

Tahun 2019 ini sinetron tersebut dirubah ke dalam genre film, dengan karakter yang hampir sama.  Film ini sendiri diperankan oleh Ringgo Agus Rahman sebagai Abah dan Nirina Zubir sebagai Emak. Dalam film tersebut juga dikisahkan Euis sebagai remaja yang memiliki bakat nge-dance dan Ara yang hobi menggambar. Namun sayangnya, tokoh Agil ditiadakan di dalam film ini.

Konflik di dalam film ini lebih mendalam dan menyentuh perasaan. Kisahnya dimulai ketika ayah dari Euis dan Ara, yang dipanggil Abah, mengalami kebangkrutan karena uangnya dibawa oleh kakak iparnya sendiri. Namun, ketika bertemu dengan kakak ipar yang membawa uangnya, reaksi yang ditunjukkan oleh Abah benar-benar di luar dugaan.

Abah marah? Gak sama sekali. Bahkan Abah mampu dengan tenang bertanya, kenapa uangnya tidak dikembalikan lagi ke perusahaan. Karena sebelumnya mereka pernah punya perjanjian, sekecil apapun uang yang keluar, akan dikembalikan lagi ke perusahaan. Mungkin dalam hal ini sang kakak ipar punya niat yang baik, agar perusahaan maju, tapi karena keputusannya yang gegabah, Abah terpaksa kehilangan rumah dan hartanya. Disini dapat terlihat, bahwa tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan amarah.

Abah sekeluarga pun pindah ke desa, menempati rumah eyang Ara dan Euis. Apakah setelah itu masalah selesai? Tidak sama sekali, karena masalah yang dihadapi menjadi lebih rumit. Namun kesabaran terlihat jelas disana. Baik dari Emak, Ara dan Euis. Dalam kondisi yang penuh tekanan begini, mereka saling mendukung, bukan menyalahkan. Bahkan banyak pembelajaran baru buat anak-anaknya.

Sejujurnya, saya memilih film ini, karena ada tulisan yang harus saya selesaikan, yang berkaitan dengan keluarga. Namun, jalan ceritanya yang bagus dan banyaknya makna dan pembelajaran di dalam film ini, membuat saya tertarik untuk membuat review-nya. Emangnya apa aja pembelajarannya?
Pertama, di saat kondisi bangkrut, tidak sedikit pun mereka menyerah, bahkan anak-anaknya mampu mengambil hikmah dari kejadian tersebut. Yaitu, ayahnya menjadi lebih sering bersama mereka dan menghabiskan waktu bersama. Kesederhanaan menjadikan mereka bersatu.
Kedua, di saat kondisi ekonomi jatuh dan mendapatkan beban baru, tidak sedikit pun mereka mengeluh. Seribu satu cara mereka lakukan untuk menghasilkan uang, selagi halal. Hal ini memberikan pembelajaran buat orang lain. Seseorang yang tadinya memiliki pekerjaan yang kurang baik, memilih untuk berubah.
Ketiga,  Euis mendapatkan teman baru dan ia belajar bagaimana mereka saling melindungi. Bukan saling menjatuhkan. Bahkan di saat teman-temannya memungkinkan untuk melepaskan diri dari hukuman.
Keempat, keluarga yang saling membantu dan memberikan dukungan, bukan saling menyalahkan.  Bahkan di saat kondisi yang patut disalahkan sekalipun.

Selain dari beberapa nilai yang saya sebutkan di atas, mungkin teman-teman akan menemukan nilai-nilai yang lain dan lebih banyak lagi. Namun, dari makna yang tidak banyak ini, satu pembelajaran terbaik yang saya dapatkan adalah jiwa besar adalah cara terbaik menghadapi kebangkrutan.
Jika ditanya, apakah ini termasuk genre “film keluarga”? Yap. Dari film ini, anak dan orangtua dapat saling mengkoreksi dirinya masing-masing. Film ini juga mampu menyuguhkan cerita dengan alur yang baik, karena tidak terlalu bertele-tele dan dibuat-buat. Semuanya mengalir dengan apa adanya.

32 comments:

  1. Wahhh.. Cocok ya buat anak2..?
    Saya akan ajukan proposal ke pak su, ajak anak-anak liat

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, kak, sederhana filmnya, namun menyentuh....bagus untuk anak-anak dan orangtua

      Delete
  2. Saya baru tau kalo film ini pernah jadi sinetron tahun 90-an

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, kak, pemainnya dulu beda....tapi yang sekarang bagus, sesuai zamannya......

      Delete
  3. Pengen nonton tapi belum ada waktu huhuhuhu :(

    ReplyDelete
  4. awalya sy fikir film ini diremake ulang. trnyata beda tapi beneran anak jaman niw kudu nonton beginian. bagus alurnya ya kak..to the point. berhubung sy gk suka.nonton bioskop.nunggu di ifllix aja dl hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya mikirnya juga gitu, tapi abis nonton jadi kagum gitu....

      Delete
  5. sayangnya padahal mau nonton tapi paksu paling fak demen diajak ke bioskop.nungguin tayang di tv or YT aja deh 😆

    ReplyDelete
  6. Replies
    1. Waduh...maafkan.....gak sengaja....pdhl masih diputar. Karena euphorianya.....

      Delete
  7. Sangat suka soundtracknya keluarga cemaraaaa!!!!

    ReplyDelete
  8. Message filmnya bagus. Nice share kakak.

    ReplyDelete
  9. Kemarin Gacil ada kesempatan nobar Keluarga Cemara gratis kak. Tapi, sayangnya Gacil kerja. Huh, pengen tengok film yg diangkat dari sinetron 90'an

    ReplyDelete
  10. Saya belom nonton hiks,,, yg blm yok nonton.bareng yok

    ReplyDelete
  11. Kemarin mau nonton iniii. Tapi keburu pulang kampung. Huhu :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kak.....mudah2n bisa dinikmati di layar kaca nantinya....

      Delete
  12. Kayak rendezvous ke masa lalu ya kaka'

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, jadi ketauan hidup remaja di tahun 90an.....hahaha.....

      Delete

Powered by Blogger.